Direktur Utama Sepatu Bata Mundur, Siapa Pemilik Perusahaan Ini?
Jawara Berita – PT Sepatu Bata Tbk (BATA) kembali menjadi perhatian setelah Amitav Nandy mengundurkan diri dari posisi Presiden Direktur. Perusahaan menerima surat pengunduran dirinya pada 23 September 2026. Manajemen menjelaskan bahwa langkah tersebut berkaitan dengan rotasi jabatan di lingkungan Bata Group. Selanjutnya, permohonan pengunduran diri akan diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham sesuai ketentuan perusahaan dan regulasi OJK. Meski terjadi pergantian pada pucuk manajemen, perusahaan menyatakan kegiatan operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, dan kelangsungan usaha tidak terdampak secara material. Dengan demikian, kabar ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan dalam struktur kepemimpinan. Namun, perhatian publik kemudian mengarah pada pertanyaan lain yang tidak kalah menarik. Siapa sebenarnya pemilik perusahaan sepatu yang sudah menemani konsumen Indonesia selama beberapa generasi tersebut?
Baca Juga: Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Dorong Utang Global Meningkat Tajam
Direktur Mundur Tidak Berarti Kepemilikan Bata Ikut Berubah
Pengunduran diri seorang Direktur atau Presiden Direktur tidak otomatis mengubah kepemilikan sebuah perusahaan. Direksi bertugas mengelola perusahaan, sedangkan kepemilikan ditentukan melalui struktur pemegang saham. Perbedaan ini penting karena kabar pergantian pimpinan sering dianggap sebagai perubahan kendali perusahaan. Dalam kasus BATA, laporan kepemilikan saham per akhir Juni 2026 mencatat Bafin (Nederland) B.V. sebagai pemegang saham pengendali. Perusahaan tersebut menguasai sekitar 82,01 persen saham atau 1,066 miliar lembar. Sementara itu, Liem Tjen Hung tercatat memiliki sekitar 5,51 persen pada periode tersebut, sedangkan saham lainnya berada di tangan pemegang saham publik. Data itu menunjukkan bahwa posisi pemegang saham pengendali berbeda dari posisi Presiden Direktur yang menjalankan fungsi manajemen sehari-hari. Karena itu, mundurnya Amitav Nandy perlu dibaca sebagai perubahan manajemen, bukan otomatis sebagai pergantian pemilik BATA.
Siapa Sebenarnya Pemegang Kendali PT Sepatu Bata?
Jika melihat struktur saham, jawaban mengenai pemilik Sepatu Bata menjadi lebih jelas. Bafin (Nederland) B.V. tercatat sebagai pemegang saham pengendali PT Sepatu Bata Tbk dengan kepemilikan sekitar 82,01 persen. Dalam laporan tahunan perusahaan sebelumnya, Bafin juga disebut sebagai entitas induk, sementara Compass Limited yang berbasis di Bermuda tercatat sebagai entitas induk terakhir perusahaan. Struktur ini menunjukkan bahwa kendali korporasi BATA terhubung dengan jaringan bisnis internasional. Fakta tersebut menarik karena sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap Bata sebagai merek lokal. Anggapan itu mudah dipahami. Bata telah hadir di Indonesia dalam waktu sangat panjang, sehingga mereknya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, dari sisi struktur korporasi, perusahaan memiliki hubungan kepemilikan internasional yang kuat. Dengan kata lain, identitas lokal Bata terbentuk dari sejarah operasinya di Indonesia, bukan karena asal-usul kepemilikannya.
Bata Berawal dari Bisnis Keluarga di Eropa
Jauh sebelum dikenal masyarakat Indonesia, Bata tumbuh dari usaha keluarga Baťa di wilayah yang sekarang menjadi Republik Ceko. Tomáš Baťa bersama Anna dan Antonín Baťa membangun bisnis sepatu pada penghujung abad ke-19. Usaha tersebut berkembang ketika keluarga Baťa mulai memanfaatkan metode produksi yang lebih modern. Penggunaan mesin membantu meningkatkan kapasitas produksi dan membuat perusahaan mampu melayani pasar yang semakin luas. Seiring waktu, Bata kemudian berkembang dari produsen regional menjadi merek internasional. Perjalanan panjang itulah yang akhirnya membawa perusahaan memasuki berbagai negara, termasuk Indonesia. Menariknya, kedekatan Bata dengan konsumen lokal membuat sejarah Eropanya tidak selalu diketahui masyarakat. Bagi banyak keluarga Indonesia, Bata justru lebih dikenal melalui sepatu sekolah, sandal, atau toko yang dahulu mudah ditemukan di pusat perdagangan. Hubungan emosional tersebut menjadi modal merek yang sulit dibangun dalam waktu singkat.
Kehadiran Panjang Membuat Bata Terasa seperti Merek Indonesia
Jejak panjang Bata di Indonesia menjadi alasan utama merek tersebut begitu akrab di telinga masyarakat. Bata mulai membangun keberadaan bisnisnya di Indonesia sejak masa sebelum kemerdekaan. Kemudian, perusahaan mengembangkan kegiatan produksi dan memperluas distribusi ke berbagai wilayah. Selama beberapa dekade, sepatu Bata menjadi pilihan bagi pelajar, pekerja, dan keluarga. Bahkan, kampanye yang berkaitan dengan musim sekolah membuat merek ini semakin melekat dengan kebutuhan anak-anak. Dari sudut pandang pemasaran, keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya kedekatan sebuah merek dengan kebiasaan konsumen lokal. Sebuah perusahaan tidak harus berasal dari suatu negara untuk membangun identitas yang sangat kuat di pasar tersebut. Bata menjadi contoh menarik. Meskipun memiliki akar bisnis internasional, pengalaman konsumen selama puluhan tahun membuat namanya terasa sebagai bagian dari perjalanan industri ritel dan alas kaki Indonesia.
Status Emiten Membuat Perubahan Direktur Menjadi Informasi Penting
PT Sepatu Bata Tbk merupakan perusahaan terbuka dengan kode saham BATA. Karena itu, perubahan dalam jajaran Direktur menjadi informasi yang relevan bagi pemegang saham dan pasar. Perusahaan perlu menyampaikan perkembangan material melalui mekanisme keterbukaan informasi. Dalam kasus Amitav Nandy, manajemen menyebut surat pengunduran dirinya diterima pada 23 September 2026 dan berkaitan dengan rotasi di Bata Group. Pengunduran diri tersebut juga harus melalui mekanisme RUPS untuk mendapatkan keputusan resmi. Menariknya, Amitav baru ditunjuk sebagai Presiden Direktur melalui RUPSLB pada 25 September 2025. Dengan demikian, masa kepemimpinannya berada di kisaran satu tahun ketika pengunduran diri diajukan. Namun, perusahaan menegaskan bahwa perkembangan tersebut tidak memberikan dampak material terhadap operasional maupun kelangsungan usaha. Penjelasan itu penting agar investor dapat membedakan perubahan organisasi dengan persoalan fundamental perusahaan.
Baca Juga: Aturan ARA-ARB BEI Berubah Hari Ini, Investor Perlu Cermati
Tantangan Bisnis Bata Masih Menjadi Perhatian Pasar
Pergantian Direktur terjadi ketika BATA masih menghadapi tantangan bisnis. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada September 2026, perusahaan membukukan rugi sekitar Rp46,46 miliar pada semester pertama 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 14,7 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan dilaporkan turun sekitar 4,4 persen menjadi Rp152,35 miliar. Data ini memberi konteks mengapa perkembangan manajemen BATA menarik perhatian pasar. Persaingan industri alas kaki kini semakin ketat karena konsumen memiliki pilihan yang jauh lebih luas. Merek global, produsen lokal, serta penjualan melalui platform digital saling berebut perhatian pembeli. Oleh sebab itu, kekuatan nama besar saja belum tentu cukup. Perusahaan perlu menyesuaikan strategi produk, distribusi, harga, dan pengalaman pelanggan agar tetap relevan. Tantangan tersebut akan tetap menjadi pekerjaan penting bagi jajaran manajemen berikutnya.
Bafin Tetap Menjadi Pemegang Saham Pengendali Bata
Di tengah kabar mundurnya Presiden Direktur, struktur kepemilikan memberikan gambaran yang lebih stabil. Laporan per akhir Juni 2026 mencatat Bafin (Nederland) B.V. masih menguasai 82,01 persen saham BATA. Jumlah tersebut setara sekitar 1,066 miliar saham dari total 1,3 miliar saham yang ditempatkan dan disetor. Dengan porsi sebesar itu, Bafin tetap berada dalam posisi sebagai pemegang saham pengendali. Artinya, kabar pengunduran diri Amitav Nandy tidak dapat langsung diartikan sebagai perubahan kepemilikan perusahaan. Bagi pembaca maupun investor, perbedaan antara pemegang saham dan pengurus perusahaan menjadi hal penting untuk diperhatikan. Direktur menjalankan pengelolaan bisnis berdasarkan kewenangan yang diberikan, sedangkan pemegang saham memiliki bagian kepemilikan perusahaan. Memahami perbedaan tersebut membantu pembaca melihat perkembangan korporasi secara lebih objektif dan tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan perubahan jabatan di tingkat manajemen.
Masa Depan Bata Bergantung pada Kemampuan Beradaptasi
Bata mempunyai modal yang tidak dimiliki banyak pemain baru, yakni sejarah panjang dan tingkat pengenalan merek yang tinggi. Namun, pasar alas kaki telah berubah drastis. Konsumen kini dapat membandingkan produk, harga, desain, dan ulasan hanya melalui ponsel. Akibatnya, loyalitas terhadap merek lama menghadapi ujian yang lebih berat. Pergantian Direktur menjadi salah satu bagian dari perjalanan perusahaan dalam menghadapi perubahan tersebut. Di sisi lain, struktur pemegang saham menunjukkan bahwa kendali BATA masih berada pada Bafin (Nederland) B.V. berdasarkan data kepemilikan yang tersedia untuk pertengahan 2026. Karena itu, perkembangan selanjutnya akan menarik untuk diamati dari sisi strategi perusahaan, bukan hanya pergantian figur di jajaran direksi. Bagi Bata, tantangannya adalah mengubah kekuatan historis menjadi relevansi baru. Nama besar memberikan fondasi, tetapi inovasi dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen akan menentukan langkah berikutnya.
