Dokter Militer AS Klaim 28 Tentara Tewas Terkait Vaksin Covid
Jawara Berita –Vaksin Covid kembali menjadi bagian dari perdebatan di Amerika Serikat setelah dokter Angkatan Darat AS, Theresa Long, memberikan kesaksian dalam sebuah perkara federal. Dalam deposisi pada 14 Agustus 2026, Long mengatakan dirinya mengetahui 28 kematian yang ia yakini disebabkan oleh vaksin Covid-19. Namun, klaim tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan medis yang telah terverifikasi secara independen. Long juga sedang menelaah ribuan laporan kematian personel militer yang masuk setelah vaksinasi. Informasi mengenai keterlibatannya muncul dari deposisi yang diperoleh Politico dan kemudian diberitakan sejumlah media. Long disebut bekerja sebagai penasihat medis militer senior bagi Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. Karena persoalan ini menyangkut kesehatan publik, konteks menjadi sangat penting. Waktu kematian yang terjadi setelah vaksinasi tidak otomatis membuktikan vaksin sebagai penyebabnya. Karena itu, penyelidikan lanjutan diperlukan untuk menilai setiap kasus berdasarkan data medis yang tersedia.
Baca Juga: Respons Menlu RI soal PM Timor Leste Datangi Rumah Jokowi di Solo
Angka 28 Berasal dari Klaim Theresa Long dalam Deposisi
Angka 28 kematian menjadi bagian yang paling menarik perhatian dari kesaksian tersebut. Long mengatakan kepada pengadilan bahwa ia mengetahui 28 orang yang meninggal akibat Vaksin Covid. Akan tetapi, informasi terperinci mengenai kasus-kasus tersebut tidak dipaparkan secara terbuka dalam laporan yang tersedia. Dengan demikian, angka itu saat ini lebih tepat disebut sebagai klaim Long dalam proses hukum, bukan jumlah kematian yang telah dikonfirmasi melalui penyelidikan ilmiah final. Perbedaan istilah tersebut penting agar pembaca tidak memperoleh gambaran yang keliru. Dalam penelitian keamanan obat dan vaksin, hubungan sebab-akibat biasanya memerlukan pemeriksaan riwayat kesehatan, waktu munculnya gejala, diagnosis, faktor risiko, serta kemungkinan penyebab lain. Long sendiri dilaporkan memiliki sertifikasi di bidang kedokteran penerbangan dan gelar Master of Public Health. Ia mengatakan penelitiannya mengenai kemungkinan komplikasi vaksin dapat membutuhkan waktu hingga sekitar satu tahun.
Sebanyak 2.544 Laporan Kematian Masih Diteliti
Selain 28 kasus yang diklaimnya, Long mengatakan sedang memeriksa 2.544 laporan kematian personel militer yang belum terverifikasi. Laporan tersebut tercatat dalam Vaccine Adverse Event Reporting System atau VAERS. Sistem ini digunakan untuk menerima laporan kejadian kesehatan yang terjadi setelah pemberian vaksin. Namun, angka dalam VAERS tidak boleh langsung dibaca sebagai jumlah korban akibat Vaksin Covid. Sebuah laporan dapat masuk ketika kejadian terjadi setelah vaksinasi, meskipun penyebab sebenarnya belum diketahui. Inilah alasan status “belum terverifikasi” menjadi sangat penting. Menurut laporan mengenai deposisi Long, penelitiannya bertujuan menentukan apakah terdapat hubungan yang dapat dibuktikan antara vaksinasi dan kasus kematian yang sedang diperiksa. Dari sudut pandang pembaca, angka 2.544 memang terlihat besar. Namun, maknanya baru dapat dinilai setelah setiap kasus diperiksa secara medis dan dibandingkan dengan faktor lain yang mungkin berperan.
Memahami VAERS agar Angka Tidak Ditafsirkan Secara Keliru
VAERS memiliki fungsi penting sebagai sistem peringatan awal keamanan vaksin. Laporan yang masuk dapat membantu peneliti menemukan pola yang layak diperiksa lebih jauh. Namun, sistem pelaporan seperti ini berbeda dengan penelitian yang secara langsung membuktikan hubungan sebab-akibat. Karena itu, dua kalimat yang terdengar mirip sebenarnya memiliki arti sangat berbeda: “meninggal setelah vaksinasi” tidak sama dengan “meninggal karena vaksinasi”. Perbedaan tersebut menjadi kunci ketika membahas Vaksin Covid dan angka yang disebut dalam deposisi Long. Bahkan, laporan mengenai kasus ini secara eksplisit menggambarkan 2.544 kematian tersebut sebagai laporan yang belum terverifikasi. Menurut saya, konteks seperti ini perlu ditempatkan dekat dengan angka utama, bukan disembunyikan di akhir artikel. Dengan cara tersebut, pembaca tetap memperoleh informasi mengenai penyelidikan yang sedang berlangsung tanpa diarahkan pada kesimpulan yang belum dibuktikan.
Mandat Vaksin Militer Era Biden Menjadi Latar Belakang Penting
Perdebatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pandemi beberapa tahun sebelumnya. Pada 2021, pemerintahan Joe Biden menerapkan mandat Vaksin Covid bagi anggota militer AS. Kebijakan itu kemudian menjadi salah satu isu paling sensitif di lingkungan pertahanan karena menyentuh kesiapan militer, kebebasan individu, serta kebijakan kesehatan. Mandat tersebut akhirnya dicabut pada Januari 2023 setelah Kongres memasukkan ketentuan pencabutan dalam National Defense Authorization Act 2023. Bertahun-tahun kemudian, dampak politik kebijakan itu masih terasa. Pemerintahan Donald Trump kemudian mengambil pendekatan berbeda terhadap personel yang sebelumnya berpisah dari dinas karena persoalan vaksinasi. Sementara itu, penyelidikan yang dijelaskan Long kembali membuka pertanyaan mengenai data kesehatan personel selama periode pandemi. Namun, penyelidikan tersebut masih berjalan. Oleh sebab itu, hasil akhirnya perlu dibedakan dari perdebatan politik yang telah berlangsung sejak mandat vaksin pertama kali diberlakukan.
Risiko Miokarditis Menjadi Salah Satu Bagian yang Diperhatikan
Salah satu isu medis yang sering muncul dalam pembahasan Vaksin Covid berbasis mRNA adalah miokarditis, yaitu peradangan pada otot jantung. Risiko langka tersebut telah menjadi bagian dari pemantauan keamanan vaksin, terutama pada kelompok tertentu. Sebuah laporan mengenai perkara ini mengutip data bahwa peringatan untuk formula vaksin mRNA 2023–2024 mencatat frekuensi miokarditis dan perikarditis dalam satu minggu setelah vaksinasi sekitar 27 kasus per satu juta pada laki-laki muda, dibandingkan sekitar delapan per satu juta pada populasi umum. Meski demikian, keberadaan efek samping yang diakui tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kematian yang sedang diperiksa memiliki penyebab yang sama. Setiap kasus membutuhkan bukti klinis tersendiri. Inilah bagian yang sering hilang ketika pembahasan vaksin hanya berpusat pada angka. Risiko medis memang layak dibicarakan secara terbuka, tetapi besarnya risiko dan kekuatan bukti juga harus disampaikan agar pembaca mendapatkan gambaran yang proporsional.
Baca Juga: Singapura Beli 20 Jet Tempur Siluman F-35 Rp71 Triliun, Mengapa 12 Unit Justru Ditempatkan di AS?
Kasus Terry Adirim Membawa Kesaksian Long ke Pengadilan
Menariknya, kesaksian Long muncul bukan dari perkara yang sejak awal secara khusus menggugat keamanan Vaksin Covid. Deposisi tersebut berkaitan dengan perkara yang melibatkan dokter Terry Adirim, mantan pejabat kesehatan pertahanan yang kemudian bekerja di Center for Global Health Services milik CIA. Dokumen pengadilan menunjukkan Adirim menggugat CIA, Direktur CIA John Ratcliffe, dan Ivan Raiklin setelah pemecatannya pada 2025. Perkara tersebut tercatat di Pengadilan Distrik AS untuk Eastern District of Virginia dan ditangani Hakim Michael S. Nachmanoff. Long kemudian muncul dalam deposisi yang berkaitan dengan perkara tersebut. Latar belakang hukum ini penting karena menjelaskan mengapa informasi mengenai penyelidikan vaksin muncul melalui dokumen pengadilan, bukan melalui publikasi penelitian medis. Dengan kata lain, kesaksian tersebut dapat menjadi informasi penting untuk diperiksa lebih lanjut. Namun, deposisi tetap berbeda dari hasil penelitian yang telah melalui evaluasi ilmiah dan menyediakan data kasus secara lengkap.
Penyelidikan Bisa Membutuhkan Waktu hingga Satu Tahun
Long mengatakan dirinya berharap penelitian mengenai kemungkinan komplikasi Vaksin Covid dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu tahun. Jangka waktu tersebut menunjukkan bahwa proses yang dilakukan belum mencapai kesimpulan akhir. Pemeriksaan ribuan laporan tentu membutuhkan lebih dari sekadar menghitung kejadian setelah vaksinasi. Peneliti perlu menentukan apakah terdapat pola tertentu, menilai kondisi kesehatan sebelum kejadian, serta memisahkan korelasi dari kemungkinan hubungan kausal. Selain VAERS, Long dilaporkan ditugaskan untuk memeriksa sistem pengawasan kesehatan selama pandemi dan dua basis data medis militer. Oleh karena itu, hasil akhir penyelidikan berpotensi memberikan gambaran yang lebih jelas dibandingkan angka awal yang muncul dalam deposisi. Sampai proses tersebut selesai, sikap paling masuk akal adalah memperlakukan angka 28 dan 2.544 sesuai status buktinya masing-masing. Angka 28 merupakan klaim yang disampaikan Long, sedangkan 2.544 merujuk pada laporan kematian yang masih belum terverifikasi.
Klaim Besar Membutuhkan Bukti yang Sama Kuatnya
Perdebatan mengenai Vaksin Covid kemungkinan tidak berhenti hanya karena munculnya satu kesaksian. Sebaliknya, klaim mengenai kematian justru membutuhkan pemeriksaan yang lebih ketat karena dampaknya terhadap kepercayaan publik sangat besar. Kesaksian Theresa Long menghadirkan pertanyaan yang layak diteliti, terutama mengenai 28 kematian yang ia kaitkan dengan vaksin dan ribuan laporan lain yang sedang diperiksa. Namun, informasi yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh laporan tersebut disebabkan vaksinasi. Menurut saya, inilah batas penting antara pemberitaan yang menarik dan pemberitaan yang dapat dipercaya. Pembaca berhak mengetahui adanya klaim dan penyelidikan. Pada saat yang sama, pembaca juga berhak mengetahui keterbatasan bukti yang tersedia. Jika penyelidikan menghasilkan data medis yang lebih lengkap, kesimpulan tentu dapat diperbarui. Untuk saat ini, menyebut status setiap angka secara jelas menjadi pendekatan yang paling bertanggung jawab.
