Ekonom Wanti-wanti Gen Z Dominasi Sektor Informal Berisiko Besar
Jawara Berita – Sektor Informal semakin banyak dipilih oleh Generasi Z sebagai jalan untuk memperoleh penghasilan. Di tengah persaingan kerja yang semakin tinggi, banyak anak muda memilih menjadi pengemudi ojek online, kurir, pekerja lepas, hingga kreator konten. Pilihan tersebut memang menawarkan fleksibilitas waktu dan peluang memperoleh pendapatan lebih cepat. Selain itu, proses masuknya relatif mudah dibandingkan pekerjaan formal yang memiliki persyaratan lebih ketat. Meski demikian, fenomena ini juga mencerminkan perubahan besar dalam struktur pasar kerja Indonesia. Banyak lulusan baru tidak lagi menunggu pekerjaan tetap, melainkan langsung mencari peluang yang tersedia di sektor digital. Perubahan tersebut menunjukkan kemampuan generasi muda dalam beradaptasi. Namun, pada saat yang sama, kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan karier dan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.
Baca Juga: Inflasi Jepang Naik 1,6 Persen, Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Peluang Kerja Fleksibel Tidak Selalu Menjamin Masa Depan yang Aman
Gig economy memang memberikan banyak kemudahan bagi pekerja muda. Mereka dapat mengatur jam kerja sendiri, menerima proyek dari berbagai platform, serta memperoleh penghasilan harian tanpa harus terikat kontrak jangka panjang. Oleh karena itu, banyak Gen Z menganggap model kerja seperti ini lebih sesuai dengan gaya hidup modern. Akan tetapi, fleksibilitas tersebut memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Pendapatan pekerja informal sering kali berubah setiap bulan sehingga sulit dijadikan dasar untuk menyusun rencana keuangan jangka panjang. Selain itu, sebagian besar pekerjaan di sektor ini belum menyediakan perlindungan seperti asuransi kesehatan, dana pensiun, maupun jaminan ketenagakerjaan. Akibatnya, kebebasan bekerja sering kali harus dibayar dengan tingkat kepastian yang lebih rendah.
Ekonom Menilai Pergeseran Ini Terjadi Karena Keterbatasan Kesempatan Formal
Sejumlah ekonom menilai meningkatnya pekerja muda di sektor informal bukan sepenuhnya didorong oleh perubahan preferensi kerja. Sebaliknya, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh terbatasnya kemampuan sektor formal dalam menyerap angkatan kerja baru setiap tahun. Ketika jumlah lulusan terus bertambah, peluang kerja formal tidak berkembang dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, banyak anak muda memilih pekerjaan yang lebih mudah dimasuki agar tetap memiliki penghasilan. Dalam sudut pandang ekonomi, kondisi ini disebut sebagai pilihan yang lahir karena tekanan keadaan, bukan murni keputusan pribadi. Dengan kata lain, sektor informal saat ini berfungsi sebagai penyangga yang membantu menekan angka pengangguran, meskipun kualitas pekerjaan yang tersedia belum tentu mampu memenuhi harapan pekerja muda.
Produktivitas Rendah Dapat Menjadi Tantangan Besar bagi Perekonomian
Fenomena meningkatnya pekerja informal juga menimbulkan kekhawatiran terhadap produktivitas nasional. Banyak pekerjaan di sektor ini memiliki nilai tambah yang relatif rendah serta peluang pengembangan keterampilan yang terbatas. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, Indonesia berisiko mengalami low productivity trap, yaitu situasi ketika jumlah tenaga kerja meningkat, tetapi kualitas output ekonomi tidak berkembang secara signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tetapi juga oleh dunia usaha dan negara. Produktivitas yang stagnan dapat menghambat inovasi, memperlambat pertumbuhan investasi, serta mengurangi daya saing Indonesia di tingkat global. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas pekerjaan menjadi agenda yang sama pentingnya dengan penciptaan lapangan kerja baru.
Pendapatan Tidak Stabil Dapat Melemahkan Daya Beli Masyarakat
Selain produktivitas, kestabilan pendapatan menjadi perhatian utama para ekonom. Sebagian besar pekerja di sektor informal memperoleh penghasilan yang bergantung pada jumlah pesanan atau proyek yang berhasil diselesaikan. Akibatnya, pendapatan setiap bulan sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat banyak pekerja kesulitan menabung, membeli rumah, atau mempersiapkan dana pensiun. Bahkan, ketika terjadi perlambatan ekonomi, kelompok pekerja informal biasanya menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika daya beli masyarakat melemah, perputaran ekonomi nasional juga berpotensi melambat. Oleh karena itu, stabilitas pendapatan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Petrosea Genjot Ekspansi Tambang Lewat Investasi Rp 1,19 Triliun di Singaraja Putra
Perlindungan Sosial Masih Menjadi Pekerjaan Rumah yang Besar
Pekerja formal umumnya memperoleh berbagai perlindungan, mulai dari jaminan kesehatan hingga dana pensiun. Sebaliknya, sebagian besar pekerja sektor informal harus mengelola seluruh risiko tersebut secara mandiri. Ketika sakit atau kehilangan pekerjaan, mereka tidak selalu memiliki perlindungan yang memadai. Kondisi ini membuat tingkat kerentanan ekonomi menjadi lebih tinggi dibandingkan pekerja formal. Selain itu, minimnya perlindungan sosial juga dapat meningkatkan ketimpangan kesejahteraan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, banyak pengamat mendorong pemerintah untuk memperluas akses perlindungan bagi pekerja platform digital dan pekerja lepas. Langkah tersebut dinilai mampu menciptakan pasar kerja yang lebih sehat sekaligus meningkatkan rasa aman bagi jutaan pekerja muda di Indonesia.
Pekerja Muda Perlu Memiliki Strategi Karier yang Lebih Berkelanjutan
Bekerja di sektor informal bukan berarti tidak memiliki masa depan. Justru, banyak pekerja berhasil mengembangkan usaha atau membangun karier melalui pengalaman yang diperoleh dari pekerjaan tersebut. Namun, penting bagi Gen Z untuk terus meningkatkan keterampilan agar memiliki peluang berpindah ke pekerjaan dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Mengikuti pelatihan digital, memperluas jaringan profesional, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dapat menjadi investasi yang sangat berharga. Dengan cara itu, pekerjaan di sektor informal tidak menjadi tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju karier yang lebih stabil. Pendekatan seperti ini juga membantu pekerja menghadapi perubahan kebutuhan industri yang berlangsung sangat cepat.
Menjadikan Sektor Informal Sebagai Jembatan Menuju Ekonomi yang Lebih Kuat
Pada akhirnya, sektor informal memiliki peran penting dalam menjaga aktivitas ekonomi dan membuka peluang kerja bagi jutaan masyarakat. Namun, manfaat tersebut akan jauh lebih besar apabila didukung oleh kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas, perlindungan sosial, dan akses pengembangan keterampilan. Dengan demikian, pekerja muda tidak hanya memperoleh penghasilan hari ini, tetapi juga memiliki kesempatan membangun masa depan yang lebih baik. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, platform digital, dan lembaga pendidikan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat. Jika langkah tersebut berhasil diwujudkan, sektor informal dapat berkembang menjadi jembatan menuju terbentuknya kelas menengah baru yang kuat serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
