Industri EV Indonesia Tumbuh, Komponen Impor Masih Jadi Tantangan
Jawara Berita – Industri EV Indonesia terus berkembang seiring bertambahnya pilihan kendaraan listrik di pasar. Investasi juga mulai masuk, sementara minat konsumen perlahan meningkat. Namun, pertumbuhan tersebut masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Salah satunya datang dari ketergantungan terhadap komponen impor. Banyak produsen kendaraan listrik roda dua dan roda empat masih menggunakan skema Completely Knock Down atau CKD. Akibatnya, sejumlah komponen utama harus didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini menjadi perhatian karena pemerintah mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Selain itu, persoalan pembiayaan juga memengaruhi kecepatan adopsi kendaraan listrik. Pelaku industri menilai bunga kredit yang kompetitif dapat membantu konsumen beralih dari kendaraan konvensional. Oleh karena itu, pertumbuhan pasar perlu berjalan bersama penguatan manufaktur, riset, investasi, dan pembiayaan.
Baca Juga: Danantara Perluas Pengolahan Sampah Menjadi Energi ke 17 Kota pada 2029
Industri EV Memasuki Fase Pertumbuhan yang Lebih Serius
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia mulai memasuki babak yang berbeda. Jika sebelumnya EV dianggap sebagai produk khusus, kini semakin banyak konsumen yang mulai mempertimbangkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Kehadiran berbagai merek ikut memperluas pilihan berdasarkan harga, desain, dan kemampuan kendaraan. Namun, pasar yang tumbuh belum otomatis berarti fondasi industrinya sudah kuat. Indonesia masih perlu membangun ekosistem dari hulu hingga hilir. Produsen membutuhkan pemasok komponen yang kompetitif. Konsumen juga membutuhkan infrastruktur, layanan purnajual, dan pembiayaan yang menarik. Sementara itu, investor memerlukan kepastian regulasi sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar. Dengan demikian, perkembangan Industri EV tidak cukup dinilai dari jumlah model baru yang masuk ke pasar. Kekuatan sebenarnya terlihat ketika produksi, teknologi, pemasok lokal, dan permintaan konsumen mampu berkembang secara bersamaan.
Komponen Impor Masih Menjadi Penopang Produksi EV
Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Periklindo, Prabowo Kartoleksono, menyoroti besarnya ketergantungan terhadap komponen luar negeri. Menurutnya, sebagian produsen kendaraan listrik masih menggunakan skema CKD. Dalam skema tersebut, berbagai komponen didatangkan sebelum dirakit menjadi kendaraan di Indonesia. Bahkan, komponen seperti sasis hingga controller masih banyak bergantung pada pasokan impor. Situasi ini terjadi karena skala ekonomi industri lokal belum sepenuhnya terbentuk. Produsen komponen membutuhkan volume pesanan yang cukup agar investasi fasilitas produksi menjadi layak. Sebaliknya, produsen kendaraan membutuhkan komponen dengan harga kompetitif agar produknya tetap menarik bagi konsumen. Hubungan tersebut membuat penguatan rantai pasok membutuhkan waktu. Oleh sebab itu, mengurangi impor tidak dapat dilakukan hanya melalui target administratif. Industri lokal juga harus memiliki kapasitas, kualitas, dan harga yang mampu bersaing.
Target TKDN 60 Persen Membutuhkan Rantai Pasok Kuat
Tantangan berikutnya datang dari target Tingkat Komponen Dalam Negeri sebesar 60 persen pada 2027. Target tersebut mendorong produsen meningkatkan penggunaan komponen buatan Indonesia. Namun, pencapaiannya sangat bergantung pada kesiapan industri pendukung. Perusahaan tidak dapat meningkatkan kandungan lokal apabila komponen yang dibutuhkan belum tersedia dalam jumlah memadai. Selain kapasitas produksi, kualitas dan harga juga menjadi pertimbangan utama. Komponen lokal harus memenuhi standar keselamatan dan performa yang ditetapkan produsen. Karena itu, target TKDN sebaiknya berjalan bersama penguatan pemasok nasional. Pemerintah dapat mendorong investasi komponen, sedangkan produsen dapat memberikan kepastian permintaan dalam jangka panjang. Jika rantai pasok semakin kuat, kandungan lokal dapat meningkat secara lebih alami. Pada akhirnya, TKDN yang tinggi akan memberikan dampak ekonomi lebih besar ketika benar-benar menciptakan produksi, tenaga kerja, dan transfer teknologi di dalam negeri.
Riset Lokal Bisa Menjadi Fondasi Industri Jangka Panjang
Pengembangan kendaraan listrik tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Riset dan pengembangan atau R&D juga menentukan posisi sebuah negara dalam rantai nilai industri. Periklindo menilai kegiatan R&D lokal perlu mendapatkan dukungan yang seimbang dalam kebijakan insentif. Hal ini penting karena penguasaan teknologi memberikan manfaat jangka panjang. Indonesia tidak hanya membutuhkan pabrik yang merakit kendaraan. Industri juga membutuhkan insinyur, pusat pengembangan produk, perangkat lunak, sistem kontrol, serta kemampuan merancang komponen. Jika aktivitas tersebut berkembang, nilai tambah yang tercipta di dalam negeri akan semakin besar. Selain itu, tenaga kerja lokal memiliki kesempatan meningkatkan kemampuan teknis. Dalam jangka panjang, investasi R&D dapat mengurangi ketergantungan teknologi dari luar. Oleh karena itu, insentif idealnya tidak hanya mengejar jumlah kendaraan yang diproduksi. Kebijakan juga perlu mendorong perusahaan membangun pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Kepastian Regulasi Menjadi Pertimbangan Penting Investor
Investasi di sektor otomotif membutuhkan modal besar dan waktu panjang. Pembangunan fasilitas produksi tidak dapat direncanakan hanya untuk satu atau dua tahun. Perusahaan perlu memperkirakan permintaan, biaya, insentif, hingga perkembangan teknologi dalam jangka panjang. Karena itu, kepastian regulasi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Prabowo menilai kebijakan yang stabil dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menyusun rencana investasi secara lebih jelas. Perubahan aturan yang terlalu cepat berpotensi mengubah perhitungan bisnis yang telah disusun sebelumnya. Sebaliknya, arah kebijakan yang konsisten dapat meningkatkan kepercayaan perusahaan untuk memperbesar investasi. Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar. Namun, pasar saja belum cukup. Regulasi yang jelas, rantai pasok yang berkembang, serta iklim investasi yang kompetitif tetap diperlukan agar Industri EV mampu menarik modal jangka panjang.
Thailand Menunjukkan Ketatnya Persaingan Industri EV Regional
Indonesia bukan satu-satunya negara Asia Tenggara yang ingin menjadi pusat kendaraan listrik. Thailand juga aktif membangun ekosistem EV dan menarik investasi produsen global. Menurut Prabowo, salah satu faktor yang memberikan daya tarik adalah kepastian kebijakan dalam periode beberapa tahun. Bagi investor, stabilitas tersebut membantu perusahaan menghitung risiko dan potensi keuntungan dengan lebih baik. Persaingan regional ini menjadi sinyal bahwa Indonesia perlu bergerak secara konsisten. Pasar domestik memang besar, tetapi perusahaan global memiliki banyak pilihan lokasi produksi. Mereka dapat membandingkan insentif, biaya tenaga kerja, infrastruktur, jaringan pemasok, dan kepastian regulasi. Oleh sebab itu, strategi Indonesia perlu lebih luas daripada sekadar menarik merek baru. Investasi yang memberikan transfer teknologi, produksi komponen, serta kegiatan R&D akan memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Kredit Kendaraan Listrik Masih Perlu Lebih Kompetitif
Persoalan lain muncul ketika kendaraan listrik sampai ke konsumen. Banyak masyarakat Indonesia membeli kendaraan menggunakan fasilitas kredit. Akibatnya, besarnya cicilan bulanan menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Periklindo menilai suku bunga kredit kendaraan listrik perlu lebih kompetitif dibandingkan kendaraan konvensional. Bunga yang lebih rendah dapat membuat total biaya kepemilikan menjadi lebih menarik. Sebaliknya, kredit yang mahal dapat mengurangi manfaat dari insentif harga kendaraan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Industri EV tidak hanya membutuhkan dukungan dari sektor manufaktur. Industri keuangan juga memiliki peran besar. Bank dan perusahaan pembiayaan dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan listrik. Namun, lembaga keuangan tetap perlu menghitung risiko dengan cermat. Nilai jual kembali, kondisi baterai, dan perkembangan pasar kendaraan listrik bekas menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi skema kredit.
Baca Juga: Pendidikan Vokasi Diperkuat, Tekan Pengangguran dan Siapkan Talenta Industri
Pembiayaan Bisa Menjadi Penggerak Permintaan Konsumen
Pembiayaan yang semakin kompetitif berpotensi mempercepat adopsi kendaraan listrik. Bagi konsumen, harga di brosur hanya menjadi salah satu bagian dari keputusan membeli kendaraan. Mereka juga mempertimbangkan uang muka, cicilan, tenor, biaya perawatan, serta nilai jual kembali. Oleh karena itu, skema kredit dapat menentukan apakah sebuah kendaraan terasa terjangkau atau justru terlalu mahal. Jika cicilan EV mampu bersaing dengan kendaraan konvensional, kelompok konsumen potensial dapat menjadi lebih luas. Peningkatan permintaan kemudian memberikan efek lanjutan kepada industri. Produsen memperoleh volume lebih besar, sedangkan pemasok memiliki alasan lebih kuat untuk membangun fasilitas produksi lokal. Dengan kata lain, akses pembiayaan dapat membantu menciptakan skala ekonomi. Namun, kebijakan tersebut tetap perlu dirancang secara sehat agar pertumbuhan penjualan tidak menghasilkan risiko kredit yang berlebihan.
Permintaan yang Besar Dibutuhkan untuk Mendorong Produksi Lokal
Adopsi kendaraan listrik Indonesia masih berkembang. Karena itu, pelaku industri menilai penciptaan permintaan tetap dibutuhkan. Volume pasar memiliki hubungan erat dengan kemampuan produsen menekan biaya. Semakin banyak kendaraan diproduksi, biaya tetap dapat dibagi ke jumlah unit yang lebih besar. Situasi serupa berlaku bagi produsen komponen. Mereka membutuhkan kepastian permintaan sebelum membangun pabrik atau memperluas kapasitas. Di sinilah terbentuk hubungan antara konsumen dan industrialisasi. Permintaan yang tumbuh dapat menarik investasi komponen. Selanjutnya, produksi lokal berpotensi menekan ketergantungan impor. Namun, penciptaan permintaan tidak seharusnya hanya bergantung pada insentif. Infrastruktur pengisian daya, kualitas produk, layanan purnajual, dan biaya kepemilikan juga perlu terus membaik. Jika semua faktor tersebut berkembang, pasar EV dapat tumbuh dengan fondasi yang lebih sehat.
Masa Depan Industri EV Ditentukan Kekuatan Ekosistem Lokal
Perjalanan Industri EV Indonesia masih panjang, tetapi peluangnya juga besar. Indonesia memiliki pasar kendaraan yang luas serta basis manufaktur yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Tantangan berikutnya adalah menghubungkan kekuatan tersebut dengan ekosistem kendaraan listrik. Ketergantungan komponen impor perlu dikurangi melalui investasi dan pengembangan pemasok lokal. Pada saat yang sama, R&D harus mendapat ruang agar kemampuan teknologi ikut tumbuh. Regulasi juga perlu memberikan kepastian bagi investor. Sementara itu, pembiayaan yang kompetitif dapat membantu masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Semua faktor tersebut saling berkaitan. Karena itu, keberhasilan industri tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan yang terjual. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar nilai tambah, teknologi, tenaga kerja, dan rantai pasok yang berhasil dibangun di Indonesia. Jika fondasi tersebut semakin kuat, Indonesia memiliki peluang menjadi pemain penting dalam industri kendaraan listrik regional.
