Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Melayu Kuno Bisa Terbang
Jawara Berita – Seorang Profesor Malaysia, Dr Solehah Yaacob, menjadi perhatian setelah sejumlah klaimnya mengenai sejarah Melayu memicu kontroversi. Solehah sebelumnya berafiliasi dengan Universitas Islam Internasional Malaysia atau IIUM. Salah satu pernyataan yang ramai dibicarakan menyebut masyarakat Melayu kuno dapat terbang. Bahkan, muncul klaim mengenai teknik “kungfu terbang” yang disebut pernah diajarkan kepada masyarakat China. Pernyataan tersebut kemudian menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk sejarawan. Di tengah kontroversi itu, IIUM mengumumkan bahwa Solehah telah diberhentikan dari tugas akademisnya sejak 27 April 2026. Universitas juga menegaskan bahwa ia tidak lagi memiliki afiliasi resmi dengan institusi tersebut. Perkara ini akhirnya berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas. Bukan hanya mengenai sebuah teori sejarah, tetapi juga tentang pentingnya bukti, tanggung jawab akademik, dan kejelasan hubungan antara pendapat individu dengan institusi pendidikan.
Baca Juga: Singapura Siapkan Hampir Rp1 Miliar untuk Setiap Anak hingga Usia 17 Tahun
IIUM Tegaskan Solehah Tak Lagi Berafiliasi dengan Universitas
Status Solehah kemudian diperjelas melalui pernyataan resmi IIUM. Universitas menyebut mantan akademisinya tersebut tidak lagi berhak mengklaim hubungan resmi dengan institusi. Penegasan itu disampaikan kepada publik pada Minggu, 23 Agustus 2026. Selain itu, IIUM menyatakan bahwa Solehah tidak boleh menggunakan gelar atau jabatan yang mengaitkan dirinya dengan universitas. Ketentuan tersebut mencakup materi promosi, pemberitaan media, publikasi, dan iklan. Sebelumnya, Solehah dikenal sebagai Profesor Malaysia yang bergerak dalam bidang bahasa dan linguistik Arab. Karena itu, penjelasan mengenai status akademiknya dianggap penting untuk menghindari kesalahpahaman. IIUM menyatakan klarifikasi tersebut diperlukan untuk menjaga integritas dan reputasi akademik universitas. Langkah ini juga memperlihatkan pentingnya batas antara pendapat pribadi seorang akademisi dan sikap resmi institusi. Terlebih, nama universitas dapat memberikan bobot tambahan ketika sebuah teori disampaikan kepada publik.
Klaim Bisa Terbang Memicu Pertanyaan dari Kalangan Sejarawan
Perhatian publik semakin besar setelah klaim mengenai kemampuan masyarakat Melayu kuno beredar luas. Salah satu pernyataan yang paling kontroversial menyebut mereka dapat terbang. Selain itu, terdapat klaim bahwa masyarakat Melayu pernah mengajarkan “kungfu terbang” kepada orang China. Klaim tersebut mendapat respons kritis dari kalangan sejarawan. Sebab, sebuah pernyataan mengenai masa lalu membutuhkan sumber yang dapat diperiksa dan dibandingkan. Dalam penelitian sejarah, cerita atau tradisi dapat menjadi titik awal. Namun, peneliti tetap membutuhkan bukti pendukung sebelum menarik kesimpulan. Bukti tersebut dapat berupa dokumen, catatan perjalanan, artefak, atau hasil penelitian arkeologi. Karena itu, kontroversi Profesor Malaysia ini menjadi menarik dari sisi literasi sejarah. Teori baru sebenarnya memiliki ruang dalam dunia akademik. Namun, semakin luar biasa sebuah klaim, semakin kuat pula bukti yang diperlukan agar gagasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Kontroversi Solehah Sebenarnya Sudah Muncul Sejak 2025
Perdebatan mengenai pernyataan Solehah bukan baru terjadi tahun ini. Pada November 2025, namanya juga menjadi perhatian setelah mengemukakan teori mengenai hubungan pelaut Melayu dengan bangsa Romawi kuno. Saat itu, ia menyebut bangsa Romawi mungkin mempelajari teknik pembuatan kapal dari pelaut Melayu. Pernyataan tersebut memicu diskusi mengenai bukti sejarah yang digunakan untuk mendukung teori itu. Bahkan, persoalan tersebut mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Datuk Seri Zambry Abdul Kadir. Ia mengingatkan akademisi agar berhati-hati ketika membuat klaim di luar bidang keahlian mereka. Sementara itu, IIUM menegaskan bahwa pandangan Solehah tidak mencerminkan posisi resmi universitas. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi konteks penting dalam memahami kontroversi terbaru. Sebab, sorotan terhadap Profesor Malaysia tersebut berkembang melalui beberapa pernyataan yang berbeda, bukan hanya satu klaim yang tiba-tiba muncul.
Teori Bijih Besi dan Hujan Meteor Ikut Menjadi Perdebatan
Solehah juga kembali mendapat perhatian setelah mengemukakan teori yang menghubungkan kekayaan bijih besi di Kedah dengan hujan meteor pada masa lampau. Pernyataan tersebut kembali memunculkan diskusi di kalangan akademisi dan masyarakat. Hubungan antara fenomena alam dan perkembangan peradaban sebenarnya dapat menjadi topik penelitian yang menarik. Namun, kesimpulan seperti itu membutuhkan dukungan dari beberapa disiplin ilmu. Penelitian geologi dapat digunakan untuk mempelajari asal material. Sementara itu, arkeologi membantu melihat hubungan material tersebut dengan aktivitas manusia pada masa tertentu. Data sejarah kemudian dapat memberikan konteks tambahan. Oleh sebab itu, sebuah teori membutuhkan proses pengujian sebelum diterima secara lebih luas. Kontroversi Profesor Malaysia ini memperlihatkan bagaimana teori yang menarik perhatian publik belum tentu memiliki posisi yang sama dengan kesimpulan ilmiah. Keduanya perlu dibedakan agar pembaca tidak menerima sebuah hipotesis sebagai fakta yang sudah terbukti.
Solehah Ajukan Banding atas Keputusan Pemberhentian
Di tengah berbagai kontroversi akademik, Solehah mengambil langkah hukum terhadap keputusan pemberhentiannya. Ia mengajukan banding melalui Pengadilan Industri Malaysia. Selain itu, ia menuduh pihak universitas bersikap tidak profesional dalam menangani persoalan tersebut. Kondisi ini membuat kasus memiliki dua jalur pembahasan yang berbeda. Pertama, terdapat perdebatan mengenai kualitas dan dasar dari klaim sejarahnya. Kedua, terdapat perselisihan mengenai keputusan universitas terhadap status pekerjaannya. Kedua persoalan itu sebaiknya tidak disatukan secara sembarangan. IIUM telah menyampaikan posisi resminya mengenai status Solehah. Namun, keberatan terhadap pemberhentian tetap memiliki mekanisme hukum tersendiri. Karena itu, hasil proses tersebut perlu menunggu keputusan dari lembaga yang berwenang. Dalam pemberitaan mengenai Profesor Malaysia ini, pemisahan antara kontroversi akademik dan sengketa ketenagakerjaan penting agar informasi tetap proporsional dan tidak menimbulkan kesimpulan yang terlalu dini.
Baca Juga: BPOM Perketat Aturan BPA, Industri Kemasan Pangan Minta Transisi hingga 2031
Kebebasan Akademik Tetap Berjalan Bersama Tanggung Jawab Ilmiah
Kasus ini juga membuka pembicaraan mengenai kebebasan akademik. Pada dasarnya, akademisi membutuhkan ruang untuk mempertanyakan teori lama dan menawarkan interpretasi baru. Banyak perkembangan ilmu pengetahuan justru bermula dari keberanian mempertanyakan pemahaman sebelumnya. Namun, kebebasan tersebut berjalan bersama tanggung jawab ilmiah. Sebuah klaim perlu memiliki metode yang jelas dan bukti yang dapat diperiksa. Selain itu, penelitian harus terbuka terhadap kritik dari akademisi lain. Jika bukti baru muncul, sebuah teori dapat diperkuat, diperbaiki, bahkan ditolak. Proses tersebut merupakan bagian normal dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, kontroversi Profesor Malaysia ini tidak hanya berkaitan dengan benar atau salahnya sebuah pernyataan. Kasus tersebut juga menunjukkan pentingnya cara sebuah klaim dibangun dan disampaikan. Gelar akademik dapat memberikan otoritas di mata masyarakat. Oleh sebab itu, standar pembuktiannya juga perlu dijaga dengan serius.
Media Sosial Membuat Klaim Sensasional Menyebar Lebih Cepat
Perdebatan seperti ini menjadi semakin kompleks pada era media sosial. Pernyataan singkat dan mengejutkan dapat tersebar dalam hitungan menit. Sebaliknya, penjelasan sejarah yang lengkap sering membutuhkan konteks panjang. Akibatnya, publik bisa mengenal sebuah klaim lebih dahulu sebelum memahami bukti di belakangnya. Fenomena tersebut membuat kemampuan memeriksa informasi semakin penting. Pembaca sebaiknya tidak hanya melihat siapa yang menyampaikan suatu teori. Mereka juga perlu melihat sumber yang digunakan. Misalnya, apakah klaim tersebut didukung penelitian yang telah ditinjau akademisi lain. Selain itu, pembaca dapat membandingkan pendapat beberapa ahli dari bidang terkait. Dalam kasus Profesor Malaysia ini, perhatian besar muncul karena klaim yang disampaikan terdengar tidak biasa. Namun, viralitas bukan ukuran kebenaran. Sebuah informasi tetap harus diuji melalui bukti, metodologi, dan diskusi ilmiah sebelum dapat diterima sebagai pengetahuan sejarah.
Kontroversi Ini Menjadi Pelajaran tentang Membaca Sejarah
Kasus Solehah akhirnya memberikan pelajaran yang lebih luas mengenai cara masyarakat membaca sejarah. Cerita tentang kejayaan peradaban memang mudah menarik perhatian. Terlebih, narasi tersebut sering menyentuh identitas dan kebanggaan masyarakat. Namun, sejarah tetap membutuhkan pendekatan kritis. Klaim mengenai masa lalu harus dapat dilacak melalui bukti yang memadai. Jika bukti belum cukup, informasi tersebut lebih tepat disebut teori atau hipotesis. Sikap kritis bukan berarti menolak kemungkinan adanya temuan baru. Sebaliknya, pendekatan tersebut membantu memastikan pengetahuan berkembang berdasarkan bukti. Polemik Profesor Malaysia ini juga menunjukkan bahwa institusi pendidikan memiliki kepentingan menjaga kejelasan akademik. Sementara itu, sengketa pemberhentian Solehah tetap berjalan melalui jalur tersendiri. Pada akhirnya, kontroversi tersebut mengingatkan bahwa teori menarik dapat membuka diskusi. Namun, bukti yang kuat tetap menjadi dasar utama untuk menentukan apakah sebuah klaim sejarah dapat dipertanggungjawabkan.
