China Berduka, Sang ‘Tangan Besi’ Ekonomi Zhu Rongji Tutup Usia
Jawara Berita – Zhu Rongji tutup usia di Beijing pada Rabu, 12 Agustus 2026. Mantan Perdana Menteri China itu meninggal setelah mengalami sakit dan menjalani perawatan medis. Kepergiannya menutup perjalanan salah satu figur yang ikut menentukan arah ekonomi China pada masa perubahan besar. Zhu memimpin pemerintahan pada 1998–2003, setelah sebelumnya menjadi wakil perdana menteri sejak 1991. Xinhua melaporkan ia meninggal pada pukul 11.06 waktu setempat. Bagi dunia ekonomi, nama Zhu lebih dari sekadar mantan pejabat tinggi. Ia berada di pusat reformasi ketika China berusaha memperkuat sistem keuangan, membenahi perusahaan negara, dan membuka hubungan perdagangan lebih luas. Oleh karena itu, kabar kepergiannya kembali mengingatkan publik pada masa ketika keputusan ekonomi sulit ikut membentuk China modern.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.877 per Dolar AS Rabu Sore
Julukan ‘Tangan Besi’ yang Melekat pada Zhu Rongji
Julukan “tangan besi” muncul seiring reputasi Zhu sebagai teknokrat dengan gaya bicara tegas dan pendekatan yang pragmatis. Ia tidak dikenal sebagai pemimpin yang menghindari keputusan sulit. Sebaliknya, berbagai persoalan ekonomi justru dihadapinya melalui perubahan struktural yang sering menimbulkan konsekuensi besar. Pada awal 1990-an, misalnya, China menghadapi tekanan inflasi dan risiko ekonomi terlalu panas. Zhu kemudian menjadi salah satu penggerak kebijakan untuk mengendalikan situasi tersebut. Reuters mencatat bahwa ia juga memperkuat kontrol pemerintah pusat terhadap perpajakan serta mendorong reformasi perusahaan milik negara. Kebijakan seperti ini tidak selalu populer. Namun, dari sudut pandang ekonomi, pendekatan tersebut memperlihatkan karakter pemerintah China saat itu: pertumbuhan cepat harus diikuti pembenahan institusi. Ketegasan itulah yang akhirnya menjadi bagian penting dari citra Zhu selama berada di pusat kekuasaan.
Dari Lulusan Teknik Menuju Pusat Kebijakan Ekonomi China
Perjalanan Zhu menuju lingkaran tertinggi pemerintahan tidak berlangsung singkat. Ia lahir di Changsha, Provinsi Hunan, pada Oktober 1928. Zhu kemudian menempuh pendidikan di Departemen Teknik Elektro Universitas Tsinghua pada 1947–1951. Setelah lulus, kariernya berkembang melalui berbagai posisi yang berhubungan dengan urusan ekonomi di pemerintahan pusat maupun daerah. Perjalanan politiknya juga sempat mengalami hambatan pada periode penuh gejolak dalam sejarah China. Namun, setelah kembali mendapatkan ruang dalam pemerintahan, karier Zhu bergerak cepat. Salah satu fase penting terjadi ketika ia memimpin Shanghai pada akhir 1980-an. Di kota tersebut, Zhu mendorong penyesuaian struktur industri, peningkatan daya saing internasional, dan orientasi pembangunan yang lebih terbuka terhadap ekspor. Pengalaman Shanghai kemudian menjadi modal penting ketika ia dipanggil ke Beijing untuk menangani persoalan ekonomi dalam skala nasional.
Reformasi Perusahaan Negara Membawa Harga Sosial Besar
Salah satu bagian paling kontroversial dari era Zhu adalah restrukturisasi perusahaan milik negara. Banyak perusahaan saat itu menghadapi persoalan efisiensi dan membutuhkan perubahan agar mampu bersaing dalam lingkungan ekonomi yang semakin terbuka. Pemerintah kemudian menutup, menggabungkan, atau mengubah banyak perusahaan negara. Dampaknya terasa langsung pada tenaga kerja karena gelombang pemutusan hubungan kerja muncul dalam proses tersebut. Reuters mencatat reformasi Zhu mendorong penutupan atau privatisasi banyak perusahaan negara dan menyebabkan banyak pekerja kehilangan pekerjaan. Dari perspektif manusia, perubahan tersebut tentu tidak dapat hanya dibaca sebagai angka ekonomi. Ada keluarga yang harus menghadapi ketidakpastian ketika sistem pekerjaan lama berubah. Namun, dari perspektif kebijakan, pemerintah saat itu melihat efisiensi sebagai langkah penting untuk menyiapkan China menghadapi persaingan global. Di sinilah warisan Zhu menjadi kompleks: reformasi menghasilkan peluang baru, tetapi juga membawa biaya sosial yang nyata.
Zhu Rongji dan Upaya Menjaga Stabilitas Ekonomi
Kemampuan Zhu mengendalikan tekanan ekonomi menjadi salah satu alasan namanya begitu menonjol. Ketika ia menjadi wakil perdana menteri pada awal 1990-an, China sedang menghadapi inflasi tinggi dan ekonomi yang bergerak terlalu cepat. Ia kemudian terlibat dalam serangkaian kebijakan untuk mendinginkan perekonomian sekaligus memperkuat kendali fiskal pemerintah pusat. Reformasi fiskal 1994 menjadi salah satu langkah penting karena memperbesar kemampuan Beijing mengumpulkan pendapatan pajak. Meski demikian, kebijakan tersebut juga meninggalkan persoalan baru. Pemerintah daerah kemudian semakin bergantung pada penjualan tanah dan sumber pembiayaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan belanja. Kondisi ini menunjukkan bahwa reformasi ekonomi jarang menghasilkan dampak yang sepenuhnya sederhana. Sebuah kebijakan dapat menyelesaikan persoalan pada satu periode, tetapi menciptakan tantangan baru bertahun-tahun kemudian. Karena itu, warisan Zhu tetap relevan ketika membahas struktur ekonomi China saat ini.
WTO Menjadi Babak Penting dalam Warisan Zhu Rongji
Salah satu pencapaian internasional terbesar pada era Zhu adalah bergabungnya China dengan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Proses menuju keanggotaan tersebut membutuhkan negosiasi panjang dan menghadapi kekhawatiran dari dalam negeri. Namun, pemerintah memilih membuka perekonomian lebih jauh karena melihat perdagangan global sebagai sumber pertumbuhan baru. China resmi menjadi anggota WTO pada Desember 2001. Reuters menempatkan keberhasilan mengamankan keanggotaan tersebut sebagai salah satu pencapaian terbesar Zhu. Setelah itu, hubungan China dengan rantai pasok global berkembang semakin cepat. Ekspor, investasi asing, manufaktur, dan pembangunan industri ikut mendapatkan momentum. Meski demikian, keberhasilan tersebut juga membuat ekonomi China semakin terhubung dengan permintaan internasional. Kini, ketika ketegangan perdagangan meningkat dan Beijing ingin memperkuat konsumsi domestik, keputusan pada era Zhu kembali menjadi bahan penting untuk memahami perjalanan ekonomi negara tersebut.
Baca Juga: Direktur Niaga Garuda Indonesia Diberhentikan Sementara, Apa yang Terjadi?
Warisan Reformasinya Masih Terlihat di China Modern
Menilai warisan Zhu tidak cukup hanya dengan melihat pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintahannya. Beberapa reformasi yang pernah dianggap sangat berhasil ternyata membawa konsekuensi jangka panjang. Sentralisasi pendapatan pajak, misalnya, memperkuat pemerintah pusat tetapi meningkatkan tekanan keuangan pada sebagian pemerintah daerah. Sementara itu, reformasi kepemilikan rumah ikut membuka jalan bagi perkembangan sektor properti yang kemudian menjadi bagian sangat besar dari perekonomian. Reuters Breakingviews menilai sejumlah ketidakseimbangan yang dihadapi China sekarang memiliki hubungan dengan struktur ekonomi yang terbentuk pada era reformasi tersebut. Hal ini tidak berarti seluruh persoalan hari ini dapat dibebankan kepada kebijakan Zhu. Ekonomi China telah berubah drastis selama lebih dari dua dekade. Namun, jejak kebijakannya membantu menjelaskan mengapa properti, ekspor, pemerintah daerah, dan investasi menjadi unsur penting dalam model pertumbuhan China.
Sosok Teknokrat yang Tidak Lepas dari Kontroversi
Zhu kerap dikenang karena keberaniannya mengambil risiko, tetapi tidak semua pengamat menilai seluruh kebijakannya berhasil. Beberapa kritik diarahkan pada distribusi pajak, kebijakan pangan, serta dampak penutupan perusahaan negara. Reuters mencatat bahwa sejumlah pengamat China menilai kebijakan tersebut meninggalkan persoalan yang harus diselesaikan pemerintahan berikutnya. Namun, perbedaan penilaian justru membuat kisah Zhu menarik dari perspektif ekonomi. Kebijakan besar hampir selalu menghasilkan kelompok yang mendapatkan manfaat dan kelompok yang menanggung biaya. Karena itu, membaca warisannya secara seimbang jauh lebih berguna daripada sekadar menggambarkannya sebagai pahlawan reformasi. Ia adalah teknokrat yang bekerja dalam periode ketika China membutuhkan perubahan cepat. Sebagian pilihannya menghasilkan fondasi pertumbuhan, sedangkan sebagian lainnya meninggalkan persoalan struktural yang baru terlihat jelas setelah bertahun-tahun berlalu.
Kepergian Zhu Membuka Kembali Cerita Transformasi China
Kabar Zhu Rongji tutup usia akhirnya membawa perhatian kembali pada periode penting dalam sejarah ekonomi China. Dari pengendalian inflasi dan reformasi pajak hingga restrukturisasi perusahaan negara serta pembukaan perdagangan internasional, Zhu berada di tengah berbagai keputusan besar. Pengaruhnya bahkan tetap menjadi bahan pembahasan ketika China menghadapi perlambatan sektor properti, tekanan pemerintah daerah, dan kebutuhan memperkuat konsumsi domestik. Bagi saya, bagian paling menarik dari warisan Zhu bukan sekadar ketegasannya. Kisahnya menunjukkan bahwa transformasi ekonomi selalu memiliki harga dan konsekuensi jangka panjang. Keputusan yang dianggap berani pada satu generasi dapat menjadi fondasi keberhasilan sekaligus sumber tantangan bagi generasi berikutnya. Karena itulah, kepergian Zhu bukan hanya berita duka politik. Ia juga menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang China dari ekonomi yang relatif tertutup menuju salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.
