Bambang Tewas dalam Kericuhan Pejompongan, Keluarga Kenang Sosoknya
Jawara Berita – Penjual Cermin Bambang Setiawan meninggal setelah kericuhan terjadi di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat. Warga berusia 60 tahun itu sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan di pinggir jalan. Namun, bagi keluarganya, Bambang bukan sekadar korban dalam sebuah peristiwa. Ia merupakan suami, ayah, dan kepala keluarga yang selalu berusaha menjaga orang-orang terdekatnya. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka sekaligus banyak pertanyaan. Di tengah proses mencari kejelasan, keluarga memilih mengenang sisi hangat Bambang. Pria yang akrab disapa Pak Bengbeng itu dikenal mudah bergaul dan tidak pernah membedakan orang berdasarkan usia.
Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Kalbar, Ribuan Warga Salat Istisqa Memohon Hujan
Pak Bengbeng Dikenal Ramah oleh Lingkungannya
Sudarsih, istri Bambang, menggambarkan suaminya sebagai pribadi yang rendah hati. Menurutnya, Bambang mampu menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan. Ia nyaman berbicara dengan orang tua, ibu rumah tangga, anak muda, maupun anak-anak. Sikap tersebut membuat Bambang mudah diterima oleh masyarakat sekitar. Sudarsih memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Meski demikian, ia tetap melihat sang suami sebagai orang yang baik. Kini, percakapan sederhana dan kebiasaan Bambang menyapa tetangga menjadi kenangan berharga. Kehangatan itulah yang paling kuat tersimpan dalam ingatan keluarga.
Semangat Muda Melekat pada Sosok Bambang
Wisnu, salah satu putra Bambang, mengenang ayahnya sebagai sosok yang memiliki jiwa muda. Bambang tidak hanya bergaul dengan orang seusianya. Ia juga kerap menyapa dan mengajak anak-anak muda berbincang. Bahkan, beberapa orang pernah mengira Bambang belum memiliki anak dewasa. Cara bergaulnya terasa santai dan tidak berjarak. Karena itu, kehadirannya sering diterima dengan baik oleh generasi yang lebih muda. Menurut Wisnu, ayahnya senang merangkul orang di sekitarnya. Sifat tersebut menjadi salah satu warisan yang ingin terus dikenang oleh anak-anaknya.
Keluarga Mengenangnya sebagai Pekerja Keras
Di balik sifatnya yang mudah bergaul, Bambang merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ia menjalani keseharian dengan menjual cermin di kawasan Pejompongan. Pekerjaan itu menjadi salah satu cara Bambang memenuhi kebutuhan rumah tangga. Wisnu mengatakan ayahnya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga. Sementara itu, Yoga melihat sang ayah sebagai figur sederhana yang memahami tanggung jawabnya. Bambang mungkin tidak selalu mengungkapkan kasih sayang melalui kata-kata. Namun, keluarganya merasakan perhatian tersebut melalui kerja kerasnya setiap hari.
Aktivitas Terakhir Bambang Sebelum Kericuhan
Pada Kamis, 27 Agustus 2026, Bambang masih berjualan seperti biasa. Namun, suasana di Jalan Pejompongan Raya mulai berubah menjelang sore. Massa dilaporkan mulai berkumpul dan keadaan semakin memanas. Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsih meminta suaminya menutup dagangan lebih cepat. Setelah itu, Bambang sempat mengantar seorang tetangga berobat ke RS Pelni. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00 WIB. Meski telah pulang, kericuhan di sekitar Pejompongan belum sepenuhnya mereda. Massa saat itu disebut bergerak ke arah TPU Karet.
Bambang Kembali Keluar untuk Melihat Situasi
Beberapa saat setelah tiba di rumah, Bambang keluar melalui gang menuju Jalan Pejompongan Raya. Menurut penuturan Sudarsih, suaminya memang sering melihat keadaan ketika terjadi kericuhan di lingkungan mereka. Selain itu, Bambang terkadang menyediakan air bagi warga yang membutuhkan. Kebiasaan tersebut sesuai dengan karakternya yang peduli terhadap orang lain. Namun, malam itu Bambang tidak kunjung pulang. Awalnya, keluarga masih berharap ia sedang bersama teman-temannya. Akan tetapi, waktu terus berjalan tanpa kabar. Perasaan cemas pun mulai memenuhi rumah mereka.
Pencarian Berlangsung hingga Dini Hari
Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsih mulai mendatangi tempat teman-teman Bambang biasa berkumpul. Namun, ia tidak menemukan suaminya di lokasi tersebut. Keluarga kemudian terus mencari informasi mengenai keberadaannya. Sekitar pukul 04.00 WIB, salah satu anak mengenali sosok yang diduga Bambang dalam video di media sosial. Rekaman itu disebut memperlihatkan seorang pria mengalami kekerasan di tengah kericuhan. Meski menjadi petunjuk penting, isi video tetap perlu diperiksa oleh pihak berwenang. Keluarga akhirnya mengetahui bahwa Bambang telah meninggal dan jenazahnya berada di RS Polri Kramat Jati.
Polisi Menjelaskan Proses Evakuasi Bambang
Menurut keterangan kepolisian, Bambang dievakuasi setelah keadaan di lokasi dinilai cukup aman. Saat ditemukan, ia disebut berada dalam kondisi tidak sadarkan diri. Petugas kemudian membawanya ke RS Mintohardjo. Namun, Bambang dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan. Selanjutnya, jenazah dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Proses identifikasi dan visum dilakukan untuk membantu mengetahui keadaan seputar kematiannya. Keterangan resmi tersebut menjadi bagian penting dalam penyelidikan. Meski demikian, rangkaian kejadian masih membutuhkan pemeriksaan yang menyeluruh.
Baca Juga: Pascakerusuhan Demo DPR, Polri Pastikan Situasi Nasional Tetap Aman Terkendali
Keluarga Membutuhkan Kejelasan Berbasis Bukti
Kematian Bambang di tengah kericuhan menyisakan pertanyaan bagi keluarga dan masyarakat. Rekaman yang beredar perlu diverifikasi agar tidak memunculkan kesimpulan yang keliru. Selain itu, aparat perlu memeriksa saksi dan bukti lain dari lokasi kejadian. Jika ditemukan tindak pidana, pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum. Menurut saya, penyelidikan terbuka sangat penting dalam kasus seperti ini. Keluarga tidak hanya membutuhkan informasi mengenai kronologi. Mereka juga berhak memperoleh kepastian mengenai penyebab kematian Bambang Setiawan. Oleh karena itu, setiap temuan sebaiknya disampaikan secara akurat dan tidak tergesa-gesa.
Bambang Tidak Hanya Dikenang dari Cara Ia Pergi
Bagi keluarga, kehidupan Bambang Setiawan jauh lebih luas daripada peristiwa yang merenggut nyawanya. Ia adalah pedagang sederhana yang bekerja untuk rumah tangga. Ia juga seorang ayah yang tetap bersemangat saat berbicara dengan anak muda. Selain itu, Bambang dikenal sebagai tetangga yang mudah menyapa dan membantu. Keluarga ingin masyarakat mengingat nilai-nilai tersebut. Meski proses hukum masih berjalan, kenangan tentang sikap ramahnya tetap bertahan. Sosok Pak Bengbeng kini hidup melalui cerita istri, anak-anak, dan orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Keramahan Menjadi Warisan bagi Anak-Anaknya
Yoga menilai kemampuan ayahnya bergaul dengan berbagai kalangan sebagai teladan yang berharga. Bambang Setiawan dapat berbicara dengan siapa saja tanpa membuat jarak. Sikap itu mungkin terlihat sederhana, tetapi tidak semua orang mampu melakukannya. Di tengah duka, keluarga berusaha menjaga nilai baik tersebut. Mereka mengenang Bambang sebagai sosok yang terbuka, hangat, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, kepergiannya meninggalkan luka yang tidak mudah dipulihkan. Namun, keramahan dan kerja kerasnya tetap menjadi warisan yang dapat diteruskan oleh anak-anaknya.
