Tak Semua Motor Listrik Bisa Jadi Molinas, Ini Empat Syaratnya
Jawara Berita – Motor Listrik buatan dalam negeri tidak otomatis mendapatkan status Motor Listrik Nasional atau Molinas. Pemerintah menetapkan empat syarat utama agar sebuah produk dapat masuk dalam program tersebut. Kriterianya mencakup TKDN di atas 60 persen, desain dan rekayasa lokal, penggunaan baterai berbasis nikel, serta harga yang terjangkau. Kebijakan ini menunjukkan bahwa Molinas tidak hanya mengejar pertumbuhan penjualan kendaraan listrik. Pemerintah juga ingin membangun kemampuan industri dari hulu hingga hilir. Artinya, Indonesia diarahkan untuk menguasai desain, teknologi, manufaktur, baterai, dan rantai pasok. Peluangnya cukup besar karena jumlah sepeda motor konvensional di Indonesia masih mencapai sekitar 145,25 juta unit. Sebaliknya, populasi kendaraan roda dua listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025. Perbedaan tersebut membuka ruang besar bagi pertumbuhan industri nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga: Masih Bingung Posisi Tangki Bensin Tanpa Turun Mobil? Ini Caranya
TKDN di Atas 60 Persen Jadi Syarat Utama Molinas
Persyaratan pertama berkaitan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Pemerintah menetapkan angka di atas 60 persen bagi produk yang ingin mendapatkan status Molinas. Komponen tersebut mencakup bagian penting kendaraan. Di antaranya adalah powertrain, rangka atau struktur, plastik, serta panel bodi. Persyaratan ini membuat pengembangan Motor Listrik nasional tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Produsen didorong menggunakan lebih banyak komponen yang berasal dari industri dalam negeri. Semakin besar keterlibatan pemasok lokal, semakin luas pula dampak ekonomi yang dapat tercipta. Selain itu, peningkatan TKDN berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap komponen impor. Namun, industri lokal juga harus mampu menjaga kualitas dan kapasitas produksi. Komponen buatan dalam negeri tetap harus memenuhi standar keamanan dan performa. Karena itu, target TKDN bukan hanya persoalan persentase. Kebijakan tersebut juga menjadi tantangan bagi pemasok nasional untuk meningkatkan teknologi dan kualitas produknya.
Desain dan Rekayasa Harus Dikembangkan di Indonesia
Syarat kedua menunjukkan ambisi yang lebih besar dalam membangun industri kendaraan listrik. Pemerintah menginginkan proses desain dan rekayasa dikembangkan di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat produksi atau perakitan kendaraan yang teknologinya berasal dari luar. Kemampuan merancang produk sendiri dapat menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri. Insinyur lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Misalnya, karakter jalan, pola perjalanan, daya angkut, serta kondisi iklim dapat menjadi pertimbangan sejak tahap desain. Selain itu, penguasaan rekayasa membuat produsen lebih fleksibel ketika melakukan pengembangan produk berikutnya. Menurut saya, aspek ini justru menjadi salah satu bagian paling penting dari program Molinas. Nilai sebuah industri tidak hanya terletak pada jumlah unit yang diproduksi. Kemampuan menciptakan teknologi dan mengembangkannya secara mandiri juga menentukan daya saing dalam jangka panjang.
Baterai Berbasis Nikel Mendukung Hilirisasi Nasional
Baterai menjadi komponen strategis dalam pengembangan Motor Listrik. Karena itu, pemerintah memasukkan penggunaan baterai berbasis nikel sebagai salah satu syarat Molinas. Kebijakan tersebut berkaitan dengan strategi hilirisasi mineral yang terus dikembangkan Indonesia. Nikel merupakan salah satu bahan penting untuk beberapa jenis baterai kendaraan listrik. Dengan mengolah sumber daya tersebut di dalam negeri, pemerintah berharap nilai tambah tidak berhenti pada ekspor bahan mentah. Industri dapat berkembang menuju pemrosesan material, produksi sel baterai, hingga perakitan paket baterai. Namun, pengembangan ekosistem ini tetap membutuhkan investasi teknologi dan standar keamanan yang kuat. Baterai berpengaruh langsung terhadap jarak tempuh, performa, bobot, biaya, serta keamanan kendaraan. Oleh sebab itu, kualitas harus menjadi prioritas. Jika rantai industri baterai lokal berkembang dengan baik, produsen nasional berpeluang mendapatkan pasokan yang lebih terintegrasi. Pada akhirnya, hal tersebut dapat membantu memperkuat ekosistem kendaraan listrik secara keseluruhan.
Harga Terjangkau Tetap Menjadi Bagian Penting
Teknologi lokal tidak akan memberikan dampak besar apabila produk sulit dijangkau konsumen. Karena itu, pemerintah menetapkan harga terjangkau sebagai persyaratan berikutnya. Kriteria tersebut cukup penting mengingat sepeda motor merupakan alat transportasi sehari-hari bagi banyak masyarakat Indonesia. Konsumen biasanya mempertimbangkan harga pembelian, biaya penggunaan, kemudahan servis, dan ketersediaan suku cadang. Kendaraan listrik juga membawa pertimbangan tambahan, seperti umur baterai dan akses pengisian daya. Oleh sebab itu, produsen perlu menemukan keseimbangan antara kandungan lokal, teknologi, performa, dan harga. Tantangannya cukup besar. Pengembangan teknologi membutuhkan investasi, sementara pasar domestik tetap sensitif terhadap harga. Namun, produksi dalam skala lebih besar dapat membantu menekan biaya dalam jangka panjang. Jika Motor Listrik lokal mampu menawarkan biaya penggunaan yang kompetitif, peluang menarik pengguna kendaraan konvensional juga dapat semakin terbuka.
Alva dan Gesits Masuk dalam Program Molinas
Sejauh ini, Alva dan Gesits disebut sebagai dua merek dalam negeri yang menjadi bagian dari program Molinas. Kehadiran keduanya memberikan gambaran awal mengenai arah pengembangan industri kendaraan roda dua listrik nasional. Namun, pasar masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang. Pemerintah tidak sekadar membutuhkan lebih banyak merek. Industri juga membutuhkan pemasok komponen, produsen baterai, fasilitas produksi, layanan purnajual, dan infrastruktur pengisian daya. Dengan kata lain, pertumbuhan ekosistem jauh lebih penting daripada hanya meningkatkan jumlah model yang tersedia. Persaingan antarmerek juga dapat memberikan dampak positif bagi konsumen. Produsen akan terdorong menawarkan desain lebih baik, efisiensi lebih tinggi, dan harga yang semakin kompetitif. Meski demikian, standar kualitas harus tetap dijaga. Kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman penggunaan dalam jangka panjang. Karena itu, kualitas produk dan layanan purnajual menjadi bagian penting dalam memperluas penerimaan pasar.
Pasar Motor Listrik Indonesia Masih Terbuka Lebar
Perbandingan jumlah kendaraan memperlihatkan besarnya potensi pasar Indonesia. Populasi sepeda motor konvensional mencapai sekitar 145,25 juta unit. Sementara itu, jumlah Motor Listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025. Artinya, penetrasi kendaraan listrik roda dua masih relatif kecil dibandingkan pasar kendaraan konvensional. Kondisi tersebut dapat dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Produsen masih perlu meyakinkan masyarakat mengenai manfaat dan kemudahan menggunakan kendaraan listrik. Namun, jumlah pengguna sepeda motor yang sangat besar menyediakan ruang pertumbuhan yang luas. Peralihan tentu tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Harga kendaraan, infrastruktur pengisian, jarak tempuh, serta ketersediaan bengkel tetap menjadi pertimbangan konsumen. Karena itu, pertumbuhan pasar membutuhkan ekosistem yang berjalan bersama. Jika hanya jumlah kendaraan yang bertambah tanpa dukungan layanan, adopsi dapat melambat. Sebaliknya, ekosistem yang matang dapat membuat perpindahan dari kendaraan konvensional terasa lebih praktis.
Permintaan Diproyeksikan Mencapai 1,5 Juta Unit pada 2028
Kemenko Perekonomian memperkirakan permintaan kendaraan roda dua listrik dapat meningkat tajam. Total permintaan pada 2028 diproyeksikan mencapai 1,5 juta unit. Angka tersebut jauh lebih besar daripada rencana kapasitas produksi Molinas yang berada di kisaran 100 ribu unit per tahun. Perbedaan itu menunjukkan adanya peluang sekaligus tantangan bagi produsen nasional. Jika permintaan benar-benar tumbuh sesuai proyeksi, kapasitas industri perlu meningkat agar pasar tidak terlalu bergantung pada produk dari luar. Namun, peningkatan produksi membutuhkan investasi pada pabrik, tenaga kerja, pemasok, dan teknologi. Selain itu, kualitas produk tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar volume. Industri juga perlu memastikan pasokan komponen tetap tersedia ketika produksi meningkat. Dari sisi bisnis, kesenjangan antara permintaan dan kapasitas dapat menarik investasi baru. Akan tetapi, keberhasilan tetap bergantung pada seberapa cepat rantai pasok lokal mampu berkembang mengikuti kebutuhan pasar.
Baca Juga: Ferrari Luce Widebody Tampil Lebih Buas, Sentuhan Digital Hidupkan DNA Supercar
Molinas Diproyeksikan Mengurangi Beban Subsidi BBM
Program Molinas juga dikaitkan dengan potensi penghematan energi. Pemerintah memproyeksikan pengoperasian sekitar 11 juta Motor Listrik pada 2037 dapat membantu menghemat subsidi BBM hingga Rp82,2 triliun selama periode 2027–2037. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa elektrifikasi kendaraan roda dua tidak hanya dilihat sebagai kebijakan industri. Ada pula dimensi fiskal dan energi yang ingin dicapai. Sepeda motor digunakan secara luas untuk mobilitas harian di Indonesia. Karena itu, perubahan sumber energi pada jutaan kendaraan dapat memberikan dampak terhadap konsumsi bahan bakar. Meski demikian, pencapaian target tersebut bergantung pada tingkat adopsi masyarakat. Infrastruktur listrik, harga kendaraan, serta biaya kepemilikan akan memengaruhi keputusan konsumen. Selain itu, pasokan listrik dan sistem pengisian harus berkembang sejalan dengan pertumbuhan kendaraan. Jika berbagai faktor tersebut dapat berjalan bersama, manfaat ekonomi dari elektrifikasi berpotensi menjadi lebih luas daripada sekadar penjualan unit baru.
Ekosistem Molinas Berpotensi Menciptakan 215 Ribu Pekerjaan
Dampak ekonomi program Molinas diproyeksikan mencapai sekitar Rp150 triliun sepanjang 2026–2031. Selain itu, ekosistem tersebut diperkirakan dapat menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja. Peluang pekerjaan tidak hanya berasal dari pabrik kendaraan. Industri komponen, baterai, layanan teknis, dan infrastruktur pengisian daya juga membutuhkan tenaga kerja. Inilah alasan pengembangan rantai pasok lokal memiliki nilai strategis. Semakin banyak tahapan produksi yang berlangsung di Indonesia, semakin besar pula peluang nilai ekonomi bertahan di dalam negeri. Selain itu, pemerintah memperkirakan substitusi impor minyak dapat memberikan dampak sekitar Rp45 triliun terhadap neraca perdagangan. Namun, angka proyeksi tetap perlu dipandang sebagai target yang bergantung pada realisasi industri. Investasi, permintaan konsumen, kapasitas produksi, dan perkembangan teknologi akan menentukan hasil akhirnya. Karena itu, keberhasilan Molinas akan terlihat dari kemampuan membangun ekosistem yang benar-benar berkelanjutan.
Motor Listrik Nasional Bukan Sekadar Label Produk Lokal
Empat persyaratan Molinas menunjukkan bahwa pemerintah ingin membangun fondasi industri yang lebih dalam. TKDN tinggi mendorong penggunaan komponen lokal. Desain dan rekayasa dalam negeri memperkuat penguasaan teknologi. Sementara itu, baterai berbasis nikel diarahkan untuk mendukung hilirisasi. Harga yang terjangkau kemudian menjadi jembatan agar produk dapat diterima pasar. Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, Motor Listrik nasional dapat berkembang lebih dari sekadar alternatif kendaraan konvensional. Industri ini berpotensi membangun kemampuan manufaktur baru sekaligus menciptakan rantai ekonomi yang panjang. Namun, tantangan sebenarnya berada pada tahap pelaksanaan. Produk harus tetap aman, berkualitas, mudah dirawat, dan memiliki harga kompetitif. Konsumen pada akhirnya akan memilih kendaraan berdasarkan manfaat yang mereka rasakan. Karena itu, status Molinas akan memiliki nilai lebih kuat apabila diikuti produk yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam penggunaan sehari-hari.
