Putra Wali Kota Filipina Masuk Buronan FBI, Diduga Terlibat Penipuan Rp11,5 Triliun

Putra Wali Kota Filipina Masuk Buronan FBI, Diduga Terlibat Penipuan Rp11,5 Triliun

Jawara Berita – Putra Wali Kota Filipina, Rey E. Grabato II, menjadi sorotan setelah masuk daftar buronan penipuan FBI. Ia merupakan putra Wali Kota Mina, Rey P. Grabato. Ibunya, Lydia Encarnacion Grabato, juga pernah menjabat sebagai wali kota di wilayah tersebut. Namun, perhatian terhadap Grabato bukan semata karena latar belakang keluarganya. Otoritas Amerika Serikat memburunya terkait dugaan penipuan investasi berskala besar. Sekitar 2.000 investor disebut terlibat dalam perkara dengan nilai lebih dari USD650 juta. Jika dikonversikan menggunakan perhitungan dalam laporan, nilainya melampaui Rp11,5 triliun. FBI bahkan menawarkan hadiah hingga USD150.000 atau sekitar Rp2,6 miliar untuk informasi yang membantu penangkapannya. Meski demikian, status buronan tidak sama dengan putusan bersalah. Tuduhan terhadap Grabato masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Perbedaan tersebut penting agar informasi mengenai perkara ini tetap disampaikan secara proporsional.

Baca Juga: Foto Macron Naik Jet Ski di Tengah Kebakaran Hutan Picu Polemik

Bisnis Properti Menjadi Awal Kasus Bernilai Fantastis

Sebelum menjadi buronan, Grabato dikenal sebagai mantan presiden dan pemilik mayoritas National Realty Investment Advisors LLC atau NRIA. Perusahaan tersebut bergerak di bidang investasi real estate di Amerika Serikat. Melalui bisnis itu, masyarakat ditawarkan kesempatan menempatkan dana dalam produk investasi yang dikelola perusahaan. Salah satunya adalah NRIA Partners Portfolio Fund I LLC. Masalah kemudian muncul ketika otoritas federal menyelidiki kondisi keuangan serta cara perusahaan mendapatkan dana investor. Menurut tuduhan jaksa, aktivitas yang menjadi fokus perkara berlangsung antara Februari 2018 hingga Januari 2022. Sekitar 2.000 investor disebut terkena dampaknya, termasuk ratusan orang di New Jersey. Nilai dana yang terkait dengan kasus tersebut mencapai sekitar USD650 juta. Besarnya angka itu membuat perkara NRIA mendapat perhatian serius. Selain itu, skala korbannya menunjukkan bagaimana dugaan pelanggaran dalam sebuah perusahaan investasi dapat memberikan dampak luas kepada masyarakat.

Kampanye Pemasaran Besar Menarik Ribuan Investor

NRIA disebut menjalankan strategi pemasaran dalam skala nasional untuk mendapatkan investor. Perusahaan menggunakan ribuan email untuk memperkenalkan produk investasinya. Selain itu, promosi dilakukan melalui televisi, radio, papan reklame, serta presentasi langsung kepada calon investor. Strategi tersebut membantu membangun citra perusahaan yang terlihat mapan. Menurut jaksa federal, investor dibuat percaya bahwa NRIA memiliki kondisi keuangan sehat dan mampu menghasilkan keuntungan besar. Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam dugaan perkara karena calon investor menggunakan informasi perusahaan sebelum memutuskan menempatkan dana. Namun, jaksa menggambarkan kondisi yang berbeda. NRIA dituduh hanya menghasilkan sedikit keuntungan atau bahkan tidak menghasilkan keuntungan yang memadai. Apabila tuduhan tersebut terbukti, perbedaan antara gambaran pemasaran dan kondisi perusahaan menjadi bagian penting dalam perkara. Kasus ini juga mengingatkan bahwa popularitas sebuah produk investasi tidak selalu mencerminkan kesehatan bisnis di baliknya.

Jaksa Menduga NRIA Menjalankan Skema Ponzi

Otoritas federal menggambarkan operasi tersebut sebagai dugaan skema Ponzi bernilai USD650 juta. Dalam skema seperti ini, dana dari investor baru dapat digunakan untuk membayar investor yang bergabung lebih dahulu. Akibatnya, sistem seolah menghasilkan keuntungan selama aliran modal baru tetap tersedia. Namun, struktur tersebut dapat bermasalah ketika pemasukan investor baru berkurang. Jaksa menuduh NRIA tidak menghasilkan keuntungan sesuai gambaran yang diberikan kepada masyarakat. Sebaliknya, sebagian pembayaran kepada investor lama diduga bergantung pada uang yang masuk dari investor baru. Grabato dan pihak lain juga dituduh menyalahgunakan dana investor bernilai jutaan dollar AS. Thomas Nicholas Salzano menjadi nama lain yang dikaitkan dengan perkara tersebut. Ia ditangkap pada Oktober 2022. Sementara itu, Putra Wali Kota Filipina tersebut masih berstatus buron. Namun, seluruh tuduhan terhadap Grabato tetap membutuhkan pembuktian melalui proses peradilan sebelum dapat menghasilkan putusan hukum final.

Dugaan Skema Pajak USD26 Juta Menambah Persoalan Hukum

Perkara yang dihadapi Grabato tidak berhenti pada kasus investasi NRIA. Ia juga dituduh terlibat dalam skema terpisah yang berkaitan dengan kewajiban pajak di Amerika Serikat. Menurut informasi FBI, dugaan tersebut berkaitan dengan upaya menghalangi Internal Revenue Service atau IRS. Otoritas pajak AS saat itu berusaha menagih kewajiban sekitar USD26 juta kepada pemerintah federal. Dugaan skema pajak tersebut disebut berlangsung sejak November 2007 hingga Agustus 2022. Rentang waktu yang panjang membuat persoalan hukum Grabato semakin kompleks. Selain tuduhan penipuan sekuritas dan komunikasi elektronik, ia menghadapi tuduhan konspirasi terkait urusan perpajakan. Surat perintah penangkapan federal kemudian diterbitkan pada 12 Oktober 2022. Langkah itu dilakukan setelah Grabato didakwa di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik New Jersey di Newark. Sejak proses tersebut berjalan, keberadaannya masih menjadi perhatian aparat penegak hukum Amerika Serikat.

FBI Tawarkan Hadiah Sekitar Rp2,6 Miliar

Upaya menemukan Grabato kini disertai tawaran hadiah yang cukup besar. FBI menawarkan hingga USD150.000 bagi informasi yang dapat membantu proses penangkapannya. Berdasarkan konversi dalam laporan, jumlah tersebut setara sekitar Rp2,6 miliar. FBI juga mencatat beberapa nama lain yang pernah digunakan Grabato. Di antaranya adalah Rey Encarnacion Grabato II, Rey Grabato II, serta Rey Li Encarnacion Grabato. Informasi mengenai alias penting dalam pencarian seseorang yang diduga berpindah wilayah atau menggunakan identitas berbeda. Dokumen perkara juga mencatat hubungan Grabato dengan Hoboken, New Jersey, serta Filipina. Oleh karena itu, pencariannya memiliki dimensi internasional. Penawaran hadiah menunjukkan keseriusan otoritas dalam mendapatkan informasi mengenai keberadaannya. Meski demikian, masyarakat tetap perlu menyerahkan proses pencarian kepada aparat berwenang. Informasi mengenai buronan seharusnya disampaikan melalui saluran resmi agar tidak menimbulkan risiko atau kesalahan identifikasi.

Latar Belakang Keluarga Politik Membuat Kasus Semakin Disorot

Status Grabato sebagai Putra Wali Kota Filipina membuat kasus tersebut mendapat perhatian luas. Ayahnya, Rey P. Grabato, menjabat sebagai Wali Kota Mina. Sementara itu, ibunya, Lydia Encarnacion Grabato, juga pernah memegang jabatan wali kota di wilayah yang sama. Latar belakang tersebut membuat nama keluarga Grabato cukup dikenal dalam lingkungan politik lokal. Namun, hubungan keluarga tidak berarti anggota keluarga lainnya terlibat dalam tuduhan yang dihadapi Rey E. Grabato II. Perkara federal AS berfokus pada individu serta pihak yang disebut dalam penyelidikan. Pemisahan fakta ini penting agar pemberitaan tidak menciptakan kesan bersalah melalui hubungan keluarga. Di sisi lain, latar belakang politik memang membuat kasus Grabato lebih mudah menarik perhatian publik Filipina. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana perkara finansial lintas negara dapat berkembang menjadi berita internasional ketika tersangka memiliki hubungan dengan tokoh publik di negara lain.

Baca Juga: Prancis Kecam Pemukim Israel yang Duduki Rumah Warga Palestina

Grabato Masuk Daftar Penipu Paling Dicari FBI

Nama Grabato masuk dalam daftar Most Wanted Fraudsters milik FBI. Daftar tersebut menyoroti buronan yang dituduh atau telah dinyatakan bersalah dalam perkara penipuan besar. FBI meningkatkan fokus terhadap buronan kejahatan finansial karena dampaknya dapat menjangkau banyak korban. Selain Grabato, beberapa individu dengan hubungan ke Filipina juga muncul dalam daftar tersebut. Salah satunya adalah Michael Lizaso Marasigan, warga negara ganda Filipina dan Amerika Serikat. Ia telah divonis bersalah pada Mei 2025 atas sejumlah dakwaan. Pasangan John Michael Dimitrion dan Julieanne Baldueza Dimitrion juga disebut dalam daftar. Keduanya sebelumnya mengaku bersalah terkait skema penipuan hipotek di Hawaii. Menurut FBI, mereka kemudian tidak hadir ketika proses pembacaan vonis berlangsung pada Juli 2010. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa buronan kejahatan finansial dapat tetap dicari bertahun-tahun setelah perkara pertama kali masuk pengadilan.

Kasus Rp11,5 Triliun Menjadi Pelajaran bagi Investor

Di luar pencarian Putra Wali Kota Filipina, perkara NRIA memberikan pelajaran penting tentang risiko investasi. Tampilan perusahaan yang profesional belum tentu menjamin keamanan dana. Hal serupa berlaku pada promosi besar melalui televisi, radio, email, atau papan reklame. Oleh sebab itu, investor perlu memahami bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan keuntungan. Legalitas, laporan keuangan, rekam jejak pengelola, dan struktur investasi juga layak diperiksa. Selain itu, tawaran keuntungan yang terlihat terlalu konsisten perlu dianalisis dengan hati-hati. Dugaan skema Ponzi dapat bertahan selama dana dari investor baru terus mengalir. Kondisi tersebut membuat pembayaran awal terlihat meyakinkan. Namun, sistem dapat runtuh ketika aliran modal baru berkurang. Menurut saya, kasus ini menunjukkan bahwa proses verifikasi tetap penting meskipun sebuah perusahaan terlihat besar. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya bergantung pada promosi. Transparansi dan bukti kinerja bisnis jauh lebih penting untuk menilai risiko sebenarnya.

Perburuan Grabato Kini Menjadi Perkara Lintas Negara

Bertahun-tahun setelah surat perintah penangkapan diterbitkan, Grabato masih dicari otoritas Amerika Serikat. Kasus ini memperlihatkan kompleksitas penegakan hukum ketika tersangka memiliki hubungan dengan beberapa negara. Penyelidikan dapat melibatkan dokumen finansial, identitas, perjalanan, hingga kerja sama antarlembaga. Sementara itu, korban menunggu proses hukum yang dapat memberikan kejelasan mengenai dugaan kerugian mereka. Besarnya nilai perkara juga membuat pencarian Grabato terus mendapat perhatian. Namun, proses hukum harus tetap menjadi dasar dalam menentukan pertanggungjawaban. Status buronan menunjukkan bahwa seseorang sedang dicari untuk menghadapi proses tersebut, bukan bahwa seluruh tuduhan telah terbukti. Karena itu, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada keberhasilan aparat menemukan Grabato dan membawanya ke proses peradilan. Sampai hal tersebut terjadi, kasus dugaan penipuan Rp11,5 triliun ini masih menyisakan satu pertanyaan besar: di mana keberadaan Rey E. Grabato II?